TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Berpegang pada salah satu filosofi latihan menulis adalah latihan mengemukakan aspirasi, dan jika warga sudah terlatih menulis menjadi lebih mudah merealisasikan perubahan, Barisan Relawan Jokowi Presiden 2014 (Bara JP atau Relawan Jokowi) di Jakarta mengadakan kursus menulis gratis untuk anggota.
“Ide awal gerakan/barisan kami kan perubahan. Dalam semangat perubahan, kita mencari pemimpin yang dipercaya rakyat. Ketemunya Jokowi, kemudian Jokowi menjadi simbol perubahan. Jadi perubahan soal pertama, Jokowi adalah jawaban. Maka anggota harus terlatih mengemukakan pendapat,” ungkap Erwin Niwattana Sitompul, Ketua Relawan Jokowi, di Jakarta Sabtu (10/8/2013).
Kelas awal selama tiga hari penuh (10 sesi), Minggu (18/8), Sabtu (24/4) dan Minggu (25/8). Materi dasar adalah praktik free writing, aplikasi metoda buku Peter Elbow, Writing Without Teachers, buku yang sudah diterbitkan pemerhati menulis yang kini menjadi Relawan Jokowi, dengan judul Menulis Tanpa Guru. Kemudian menulis artikel/opini, menulis feature/seni, menulis dan mengelola blog dan materi lainnya.
“Tidak dipungut biaya, kecuali patungan makan siang maksimum Rp 15 ribu per orang. Minum dan makanan ringan, bawa sendiri. Peminat serius daftar via email eniwattana@gmail.com. Syaratnya ringan saja, melek huruf. Kelas pertama maksimum 35 orang,” jelas Erwin.
Pihaknya yakin, perubahan harus dilakoni dengan pikiran cerdas, tindakan konkret, di mana menulis adalah salah satu media.
Para mitra latihan dalam kursus ini, kesemuanya adalah wartawan aktif di Jakarta. Antara lain, Harry Patty, Selamet Susanto, Aditya L Djono, Anselmus Bata, Sihar Ramses Simatupang, Dwi Argo Santosa, Alex Madji dan Sihol Manullang.
“Mereka bukan akademisi, tetapi praktisi yang juga mengetahui dasar-dasar teori,” tutur Erwin.
Relawan Jokowi yakin, Miyamoto Musashi (Shinmen Takezo) yang lahir di Jepang 1584, samurai yang tidak pernah belajar bela diri namun kesohor, adalah simbol mengilmukan praktik. Sedangkan Sasaki Kojiro adalah samurai lulusan sekolah bela diri (dojo), simbol mempraktikkan ilmu.
“Sejarah membuktikan, Musahi mengalahkan Kojiro, jadi mengilmukan praktik lebih penting dari mempraktikkan ilmu. Itulah Jepang modern sekarang,” tukas Erwin Niwattana.
No comments:
Post a Comment