TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berjanji akan memberikan suntikan modal kepada pedagang di Blok G Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Menurut Jokowi--sapaan akrab mantan Wali Kota Solo ini, modal itu dibutuhkan pedagang agar bisa lebih produktif.
"Mau berapa ratus juta saya kasih," kata Jokowi pada Senin, 2 September 2013, di hadapan pedagang Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Asalkan, Jokowi memberi syarat, mereka bisa menjaga Blok G. Selain itu, pedagang tidak boleh kembali lagi berjualan di jalan.
Jokowi juga meminta agar pedagang membentuk koperasi sehingga penyaluran modal bisa tepat. Pun penggunaan modal tadi untuk tujuan yang tepat.
Kepala Dinas Perdagangan, UMKM, dan Koperasi, Ratnaningsih, mengatakan DKI bisa saja memberikan suntikan asal pedagang mau membentuk lagi koperasi. "Dulu, awal-awal Blok G berdiri, ada koperasi, tapi mulai hilang," ujarnya. Padahal, Ratna melanjutkan, pemberian modal kepada pedagang salah satu caranya lewat koperasi. Selain itu, koperasi bisa untuk memberikan pelatihan dan pembinaan kepada pedagang.
Menurut Ratna, besaran modal yang diberikan bergantung pada hasil evaluasi bulanan pedagang oleh Perusahaan Daerah Pasar Jaya. Dengan demikian, jumlah yang diberikan akan berbeda kepada setiap pedagang.
Ketua Koperasi Pedagang Pasar Tanah Abang, Yasril Umar, mengatakan ada sekitar 1.500-an pedagang di Blok G, baik yang lama maupun baru. Jadi suntikan modal memang penting untuk meningkatkan produktivitas.
"Untuk Blok G ini bisa di atas Rp 5 miliar," ujarnya. Dia memperkirakan seorang pedagang bisa mendapatkan suntikan modal antara Rp 5 juta sampai Rp 10 juta, bergantung pada produktivitas.
Monday, September 2, 2013
Survei Capres 2014 Terbaru: Jokowi No.1 Lagi
TEMPO.CO, Jakarta - Joko Widodo kembali unggul dalam hasil survey calon presiden 2014. Dalam survei nasional elektabilitas calon presiden yang digelar Lembaga Klimatologi Politik (LKP), seperlima responden memilih Jokowi ketimbang calon lain.
"Dalam survei LKP kali ini, Gubernur DKI Jakarta tetap menjadi capres terfavorit pilihan publik. Sebanyak 19,6 persen publik mengaku akan memilih Jokowi sebagai presiden, jika pilpres dilaksanakan hari ini," ujar Direktur Lembaga Klimatologi Politik Usman Rachman, Senin, 3 September 2013.
Di urutan selanjutnya ada Wiranto dengan 18,5 persen, Prabowo Subianto (15,4), Jusuf Kalla (7,6), Aburizal Bakrie (7,3 persen), dan Megawati (6,1). Berikutnya, Dahlan Iskan (3,4), Rhoma Irama (3,4), Mahfud Md. (3,3), Hatta Rajasa (2,5), dan Surya Paloh (2,4). Tokoh lainnya 1,3 persen. Sebanyak 9,2 persen responden mengaku belum punya pilihan.
Menurut Usman, dari survei calon berpasangan, Jokowi juga unggul. Jokowi yang dipasangkan dengan Megawati ini meraih hasil 30,7 persen. Disusul Wiranto dan Harry Tanoesudibyo (30,4), Prabowo Subianto-Hatta Rajasa (19,8), dan Aburizal Bakrie-Pramono Edie Wibowo (6,9). Sisanya sebanyak 12,2 persen responden belum menentukan pilihan.
Usman mengatakan, survei dilaksanakan pada 12-18 Agustus di 33 provinsi. Populasi survei ini adalah seluruh calon pemilih dalam pemilu 2014. Jumlah sampel 450 responden. Sampel diperoleh melalui teknik pengambilan secara berjenjang atau multistage random sampling.
Margin error sebesar 4,6 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara via telepon.
Jelang Rakernas PDIP, Ketua DPP PDIP : "Rakyat Ingin Jokowi Jadi Capres di 2014"
TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Ribka Tjiptaning mengatakan masyarakat menitip pesan untuk Megawati Soekarnoputri supaya menjadikan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai calon presiden. Mereka yang menitip pesan tidak hanya kader internal partai, tetapi juga masyarakat umum.
"Banyak rakyat nitip, 'Sampaikan, ya, ke Bu Mega, Jokowi jadi presiden'," kata Ribka saat ditemui di kompleks parlemen Senayan, Senin, 2 September 2013. Menurut Ribka, tak ada masyarakat atau kader partai yang menitip pesan kepada Megawati agar Puan Maharani menjadi calon presiden.
Masyarakat, kata Ribka, meminta kepada Megawati karena sudah tahu bahwa keputusan pemilihan kandidat calon presiden ada di tangan Megawati. "Oleh karena itu, semuanya meminta ke Bu Mega," kata dia.
Ribka menyatakan partainya sengaja membiarkan masyarakat menebak-nebak soal kandidat presiden partai banteng. Ribka sendiri tidak mau berkomentar soal pencalonan itu. "Yang penting, kan, sekarang bagaimana PDIP mendapatkan suara pemilihan legislatif sebesar 25 persen atau lebih," kata dia.
Menurut Ribka, belum ada indikasi Megawati berambisi untuk menjadi calon presiden lagi. "Belum tersirat. Bu Mega jadi Ketua Umum PDIP beberapa kali, kan, diminta, bukan hasrat pribadi," ujar dia.
"Banyak rakyat nitip, 'Sampaikan, ya, ke Bu Mega, Jokowi jadi presiden'," kata Ribka saat ditemui di kompleks parlemen Senayan, Senin, 2 September 2013. Menurut Ribka, tak ada masyarakat atau kader partai yang menitip pesan kepada Megawati agar Puan Maharani menjadi calon presiden.
Masyarakat, kata Ribka, meminta kepada Megawati karena sudah tahu bahwa keputusan pemilihan kandidat calon presiden ada di tangan Megawati. "Oleh karena itu, semuanya meminta ke Bu Mega," kata dia.
Ribka menyatakan partainya sengaja membiarkan masyarakat menebak-nebak soal kandidat presiden partai banteng. Ribka sendiri tidak mau berkomentar soal pencalonan itu. "Yang penting, kan, sekarang bagaimana PDIP mendapatkan suara pemilihan legislatif sebesar 25 persen atau lebih," kata dia.
Menurut Ribka, belum ada indikasi Megawati berambisi untuk menjadi calon presiden lagi. "Belum tersirat. Bu Mega jadi Ketua Umum PDIP beberapa kali, kan, diminta, bukan hasrat pribadi," ujar dia.
Sunday, September 1, 2013
Jelang Rakernas PDIP, DPD PDIP Sumatera Dukung Jokowi Jadi Capres di 2014
TEMPO.CO, Jakarta -PDI Perjuangan Sumatera Barat akan mempertimbangkan Gubernur Joko Widodo sebagai calon presiden. Ketua DPD PDIP Sumatera Barat Alek Indra Lukman mengatakan sambutan luar biasa masyarakat Sumatera Barat terhadap Jokowi akan menjadi landasan mengajukan Jokowi dalam laga Pemilihan Presiden 2014.
"Lihat sendiri kan fenomenanya, semua orang suka Jokowi, mulai anak-anak hingga orang tua tidak ada yang tak kenal Jokowi," kata Alek. "walaupun nantinya semua ada ditangan ibu Megawati."
Jokowi disambut meriah di dua kampus di Padang saat memberi kuliah umum di Universitas Bung Hatta dan Universitas Andalalas, Padang, Sumatra Barat, Sabtu 31 Agustus 2013.
Di Universitas Bung Hatta Padang, sebelum Jokowi datang ke Kampus Universitas Bung Hatta di Air Pacah, bahkan Gubernur Irwan Prayitno juga hadir lebih dulu menyambut Jokowi. Jokowi memberi kuliah umum tentang Ekonomi Kerakyatan selama setengah jam. Di depan ratusan mahasiswa dan dosen Universitas Bung Hatta, Jokowi banyak bercerita tentang pentingnya mempertahankan Pasar Tradisional ditengah serbuan Mall.
"Pasar Tradisional itu ekonomi kita yang rill, yang punya ribuan, bahan yang dijual juga dari petani kita sendiri, kalau Mall yang punya paling satu orang. Kalau ke Mall boleh saja, window shoping, pegang-pegang saja barangnnya, jangan beli," kata Jokowi yang disambut tertawa dan tepukan meriah mahasiswa.
"Lihat sendiri kan fenomenanya, semua orang suka Jokowi, mulai anak-anak hingga orang tua tidak ada yang tak kenal Jokowi," kata Alek. "walaupun nantinya semua ada ditangan ibu Megawati."
Jokowi disambut meriah di dua kampus di Padang saat memberi kuliah umum di Universitas Bung Hatta dan Universitas Andalalas, Padang, Sumatra Barat, Sabtu 31 Agustus 2013.
Di Universitas Bung Hatta Padang, sebelum Jokowi datang ke Kampus Universitas Bung Hatta di Air Pacah, bahkan Gubernur Irwan Prayitno juga hadir lebih dulu menyambut Jokowi. Jokowi memberi kuliah umum tentang Ekonomi Kerakyatan selama setengah jam. Di depan ratusan mahasiswa dan dosen Universitas Bung Hatta, Jokowi banyak bercerita tentang pentingnya mempertahankan Pasar Tradisional ditengah serbuan Mall.
"Pasar Tradisional itu ekonomi kita yang rill, yang punya ribuan, bahan yang dijual juga dari petani kita sendiri, kalau Mall yang punya paling satu orang. Kalau ke Mall boleh saja, window shoping, pegang-pegang saja barangnnya, jangan beli," kata Jokowi yang disambut tertawa dan tepukan meriah mahasiswa.
Jokowi jadi Capres 2014, CSIS: Megawati Jadi Ibu Bangsa Saja
TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti senior di Centre for Strategic of International Studies (CSIS) J. Kristiadi memperkirakan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi akan melenggang mulus dalam pertarungan Pemilihan Presiden 2014.
Syaratnya, kata Kristiadi, Jokowi terlebih dulu mendapat restu dari Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri. "Jokowi sudah menjadi preferensi publik dalam memilih pemimpin," ujar Kristiadi saat dihubungi Tempo, Rabu malam, 28 Agustus 2013.
Menurut Kristiadi, indikasi Megawati memberi restu sudah terlihat beberapa kali, antara lain saat Megawati mengaku usianya sudah tidak muda lagi dan butuh pengganti. "Sudah waktunya Mega menjadi ibu bangsa dan melahirkan pemimpin yang dinantikan seluruh rakyat."
Kristiadi mengatakan, sebelum melanggeng mulus di bursa calon presiden, Jokowi harus melewati beberapa kendala di internal, antara lain adanya beberapa golongan di internal partai yang masih ingin mengusung Megawati sebagai presiden.
Golongan tersebut, kata Kristiadi, khawatir jika Jokowi jadi presiden tidak diikutsertakan dalam gerbong politiknya. Kendala kedua, adanya kemungkinan dia diganjal Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta yang akan menjegalnya. "Itu pernah terjadi saat bekas Wakil Gubernur Prianto ditolak untuk mundur."
Syaratnya, kata Kristiadi, Jokowi terlebih dulu mendapat restu dari Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri. "Jokowi sudah menjadi preferensi publik dalam memilih pemimpin," ujar Kristiadi saat dihubungi Tempo, Rabu malam, 28 Agustus 2013.
Menurut Kristiadi, indikasi Megawati memberi restu sudah terlihat beberapa kali, antara lain saat Megawati mengaku usianya sudah tidak muda lagi dan butuh pengganti. "Sudah waktunya Mega menjadi ibu bangsa dan melahirkan pemimpin yang dinantikan seluruh rakyat."
Kristiadi mengatakan, sebelum melanggeng mulus di bursa calon presiden, Jokowi harus melewati beberapa kendala di internal, antara lain adanya beberapa golongan di internal partai yang masih ingin mengusung Megawati sebagai presiden.
Golongan tersebut, kata Kristiadi, khawatir jika Jokowi jadi presiden tidak diikutsertakan dalam gerbong politiknya. Kendala kedua, adanya kemungkinan dia diganjal Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta yang akan menjegalnya. "Itu pernah terjadi saat bekas Wakil Gubernur Prianto ditolak untuk mundur."
Blusukan Ke Padang, Jokowi Disambut Meriah Mahasiswa di Padang
TEMPO.CO, Padang--Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo disambut meriah di dua kampus di Padang saat memberi kuliah umum di Universitas Bung Hatta dan Universitas Andalalas, Padang, Sumatra Barat, Sabtu (31/8).
Di Universitas Bung Hatta Padang, sebelum Jokowi datang ke Kampus Universitas Bung Hatta di Air Pacah, bahkan Gubernur Irwan Prayitno juga hadir lebih dulu menyambut Jokowi. Jokowi memberi kuliah umum tentang ekonomi kerakyatan selama setengah jam. Di depan ratusan mahasiswa dan dosen Universitas Bung Hatta, Jokowi banyak bercerita tentang pentingnya mempertahankan pasar tradisional di tengah serbuan mal.
"Pasar tradisional itu ekonomi kita yang rill, yang punya ribuan, bahan yang dijual juga dari petani kita sendiri, kalau mal yang punya paling satu orang," kata Jokowi yang mengharapkan mahasiswa agar lebih memilih belanja di pasar tradisional dibandingkan belanja di mal.
"Kalau ke mal boleh saja, window shopping, pegang-pegang saja barangnnya, jangan beli," kata Jokowi yang disambut tertawa dan tepukan meriah mahasiswa.
Kehadiran Jokowi di Padang memenuhi undangan kedua kampus yang meminta Jokowi memberikan kuliah umum. "Unand dan Universitas Bung Hatta meminta Jokowi ceramah dalam kuliah umum, mereka menghubungi saya, dan Jokowi bersedia, undangan dari kampus itu banyak, Jokowi terpaksa selektif memilihnya, di Padang kampus pertama di Sumatera yang dikunjungi Jokowi," kata pengamat politik Andrinof Chaniago yang mendampingi Jokowi.
Gubernur Irwan Prayiotno mengatakan kehadirannya karena diundang Jokowi.
"Tadi pagi pak Jokowi telepon saya, dan mengundang ke sini, karena saya nggak ada jadwal lain, saya kemari menghadiri kuliah umum nya," kata Irwan Prayotno.
Menanggapi antusiasnya beberapa pertanyaan mahasiswa yang meminta Jokowi menjadi presiden, menurut Irwan Jokowi memang figur yang tepat untuk menjadi pemimpin.
"Dia sederhana dan merakyat, itu yang dibutuhkan masyarakat," kata Irwan Prayitno.
Di Universitas Bung Hatta Padang, sebelum Jokowi datang ke Kampus Universitas Bung Hatta di Air Pacah, bahkan Gubernur Irwan Prayitno juga hadir lebih dulu menyambut Jokowi. Jokowi memberi kuliah umum tentang ekonomi kerakyatan selama setengah jam. Di depan ratusan mahasiswa dan dosen Universitas Bung Hatta, Jokowi banyak bercerita tentang pentingnya mempertahankan pasar tradisional di tengah serbuan mal.
"Pasar tradisional itu ekonomi kita yang rill, yang punya ribuan, bahan yang dijual juga dari petani kita sendiri, kalau mal yang punya paling satu orang," kata Jokowi yang mengharapkan mahasiswa agar lebih memilih belanja di pasar tradisional dibandingkan belanja di mal.
"Kalau ke mal boleh saja, window shopping, pegang-pegang saja barangnnya, jangan beli," kata Jokowi yang disambut tertawa dan tepukan meriah mahasiswa.
Kehadiran Jokowi di Padang memenuhi undangan kedua kampus yang meminta Jokowi memberikan kuliah umum. "Unand dan Universitas Bung Hatta meminta Jokowi ceramah dalam kuliah umum, mereka menghubungi saya, dan Jokowi bersedia, undangan dari kampus itu banyak, Jokowi terpaksa selektif memilihnya, di Padang kampus pertama di Sumatera yang dikunjungi Jokowi," kata pengamat politik Andrinof Chaniago yang mendampingi Jokowi.
Gubernur Irwan Prayiotno mengatakan kehadirannya karena diundang Jokowi.
"Tadi pagi pak Jokowi telepon saya, dan mengundang ke sini, karena saya nggak ada jadwal lain, saya kemari menghadiri kuliah umum nya," kata Irwan Prayotno.
Menanggapi antusiasnya beberapa pertanyaan mahasiswa yang meminta Jokowi menjadi presiden, menurut Irwan Jokowi memang figur yang tepat untuk menjadi pemimpin.
"Dia sederhana dan merakyat, itu yang dibutuhkan masyarakat," kata Irwan Prayitno.
Jelang Rakernas 6 September 2013, PDI Perjuangan mulai Bahas Kriteria Capres untuk 2014
TEMPO.CO, Jakarta - PDI Perjuangan mulai membahas kriteria calon presiden yang akan diusung pada pemilihan 2014 mendatang. Agenda ini akan menjadi bahasan dalam Rapat Kerja Nasional Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
"Kami membicarakan suksesi kepemimpinan nasional, bagaimana pemimpin yang mampu menjalankan cita-cita bangsa," kata Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Achmad Basarah saat dihubungi, Ahad, 1 September 2013.
Dia mengatakan pembicaraan tidak akan masuk pada teknis orang per orang. Meskipun dia tahu salah satu kadernya, Joko Widodo, terus merajai survei elektabilitas calon presiden. "Kami rumuskan bagaimana pemimpin yang bisa menjalankan cita-cita proklamasi."
Basarah menuturkan, sebagai partai, PDI Perjuangan ingin berdaulat di bidang politik. Pengambilan keputusan calon presiden akan dilakukan secara mandiri tanpa intervensi partai lain.
PDI Perjuangan sampai kini belum terpengaruh untuk mendeklarasikan nama calon presiden. Kongres Bali memberi keleluasaan kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk menentukan kandidat calon presiden dari PDI Perjuangan. Namun, Megawati masih belum menyatakan kandidat idamannya.
Dalam berbagai survei, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memuncaki elektabilitas calon presiden. Jokowi unggul atas kandidat yang sudah mendeklarasikan diri, seperti Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie dan Wiranto. Bahkan, elektabilitas Jokowi melampaui Megawati Soekarnoputri.
Selain kriteria calon presiden, Basarah menuturkan PDI Perjuangan membahas konsolidasi pemenangan pemilu legislatif. Dia optimistis dari berbagai survei PDI Perjuangan selalu menduduki posisi puncak pemenang pemilu dengan angka di atas 20 persen. Rakernas ini untuk memastikan mesin partai bekerja maksimal menyambut pemilu legislatif 2014.
"Kami membicarakan suksesi kepemimpinan nasional, bagaimana pemimpin yang mampu menjalankan cita-cita bangsa," kata Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Achmad Basarah saat dihubungi, Ahad, 1 September 2013.
Dia mengatakan pembicaraan tidak akan masuk pada teknis orang per orang. Meskipun dia tahu salah satu kadernya, Joko Widodo, terus merajai survei elektabilitas calon presiden. "Kami rumuskan bagaimana pemimpin yang bisa menjalankan cita-cita proklamasi."
Basarah menuturkan, sebagai partai, PDI Perjuangan ingin berdaulat di bidang politik. Pengambilan keputusan calon presiden akan dilakukan secara mandiri tanpa intervensi partai lain.
PDI Perjuangan sampai kini belum terpengaruh untuk mendeklarasikan nama calon presiden. Kongres Bali memberi keleluasaan kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk menentukan kandidat calon presiden dari PDI Perjuangan. Namun, Megawati masih belum menyatakan kandidat idamannya.
Dalam berbagai survei, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memuncaki elektabilitas calon presiden. Jokowi unggul atas kandidat yang sudah mendeklarasikan diri, seperti Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie dan Wiranto. Bahkan, elektabilitas Jokowi melampaui Megawati Soekarnoputri.
Selain kriteria calon presiden, Basarah menuturkan PDI Perjuangan membahas konsolidasi pemenangan pemilu legislatif. Dia optimistis dari berbagai survei PDI Perjuangan selalu menduduki posisi puncak pemenang pemilu dengan angka di atas 20 persen. Rakernas ini untuk memastikan mesin partai bekerja maksimal menyambut pemilu legislatif 2014.
Jusuf Kalla : Jokowi HARUS Nyapres di 2014
TEMPO.CO, Padang--Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menilai, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memiliki peluang untuk menjadi Presiden. Apalagi jika mampu menjaga image yang bagus seperti sekarang ini.
Menurut mantan Ketua Umum Partai Golkar ini, seandainya Jokowi berhasil membangun Jakarta dalam satu tahun mendatang, misalnya mengurangi kemacetan, banjir, kekumuhan dan membangun pasar baik, pasti image-nya tetap bagus. "Jika begitu, ia harus mencapres," ujar JK di Padang 1 September 2013.
Terkait dengan adanya wacana untuk memasangan JK dengan Jokowi, Ketua PMI ini mengaku belum memikirkannya. "Pada waktunya lah nanti," ujarnya.
JK mengaku, belum ada pembicaraan khusus untuk pencalonan dirinya bersama dengan mantan Wali Kota Solo itu. "itu keputusan PDI-P. Tak enak mendahuluinya," ujarnya.
Sebelumnnya, JK menolak tawaran Partai Demokrat untuk mengikuti konvensi Calon Presiden. Karena, salah satu syarata konvensi harus bersedia pindah ke Partai Demokrat jika menang dalam konvensi. "Tidak mungkin. Saya kan bekas Ketum Golkar. Masak pindah partai," ujar JK.
Hal ini menurut JK, bukan pendidikan politik yang bagus. Sama tak bagusnya, jika Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono tiga tahun kemudian pindah ke Golkar.
Pasca penolakan mengikuti konvensi Demokrat, JK mengaku belum memikirkan pencapresannya pada 2014 mendatang. "Politik itu dinamis. Belum terpikirkan. Tunggu waktunya," ujarnya.
Menurut mantan Ketua Umum Partai Golkar ini, seandainya Jokowi berhasil membangun Jakarta dalam satu tahun mendatang, misalnya mengurangi kemacetan, banjir, kekumuhan dan membangun pasar baik, pasti image-nya tetap bagus. "Jika begitu, ia harus mencapres," ujar JK di Padang 1 September 2013.
Terkait dengan adanya wacana untuk memasangan JK dengan Jokowi, Ketua PMI ini mengaku belum memikirkannya. "Pada waktunya lah nanti," ujarnya.
JK mengaku, belum ada pembicaraan khusus untuk pencalonan dirinya bersama dengan mantan Wali Kota Solo itu. "itu keputusan PDI-P. Tak enak mendahuluinya," ujarnya.
Sebelumnnya, JK menolak tawaran Partai Demokrat untuk mengikuti konvensi Calon Presiden. Karena, salah satu syarata konvensi harus bersedia pindah ke Partai Demokrat jika menang dalam konvensi. "Tidak mungkin. Saya kan bekas Ketum Golkar. Masak pindah partai," ujar JK.
Hal ini menurut JK, bukan pendidikan politik yang bagus. Sama tak bagusnya, jika Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono tiga tahun kemudian pindah ke Golkar.
Pasca penolakan mengikuti konvensi Demokrat, JK mengaku belum memikirkan pencapresannya pada 2014 mendatang. "Politik itu dinamis. Belum terpikirkan. Tunggu waktunya," ujarnya.
Pesan Cinta Warga Solo Dukung Jokowi Jadi Calon Presiden 2014
TRIBUNNEWS.COM, SOLO - Warga Solo memberikan dukungan kepada mantan Wali Kota Solo Joko Widodo (Jokowi) untuk maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Mereka meminta agar PDIP yang akan menggelar Rakernas untuk mengajukan
nama Jokowi yang saat ini menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sebagi capres, bukan calon lain.
Dukungan diberikan lewat secarik kertas yang berisi pesan cinta dari warga Solo. Kertas yang jumlahnya puluhan itu berserakan di pinggir jalan. Di depan kertas itu, terpampang poster cukup besar bergambar wajah Jokowi dengan latar belakang bendera merah putih.
Pemandangan itu terlihat di ruas Jalan Slamet Riyadi, depan museum Radya Pustaka saat Car Free Day (CFD), Minggu (1/9/2013) pagi. Warga Solo yang melintas bebas menuliskan pesan cintanya kepada Jokowi yang pernah memimpin mereka selama dua periode itu.
Awalnya, warga terlihat malu-malu menuliskan pesan cintanya. Namun beberapa saat kemudian, warga malah berebut menuliskan pesan. Apalagi hanya tersedia satu pena saja. Bahkan panitia sampai kehabisan kertas kosong.
"Saya sangat mendukung Pak Jokowi maju capres. Jangan Bu Mega (Megawati)," kata Naila Miftahzani, seorang pengunjung CFD yang ikut menuliskan pesannya.
Remaja yang saat ini berstatus sebagai mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) ini menulis kalimat "Pak Jokowi, doa masyarakat Solo untuk Bapak. Semoga menjadi Presiden RI yang bisa menata dan memperbaiki negeri ini".
Remaja 21 tahun ini lebih memilih Jokowi ketimbang Megawati sebagai Capres PDIP karena lebih karena pertimbangan pemimpin muda. Sebab baginya, Megawati adalah orang lama yang sudah beberapa kali nyapres.
"Harus ada calon baru, yang lebih mempunyai visi dan inovasi. Dan Jokowi adalah harapan bagi banyak orang," katanya.
Suparjo, warga lainnya menuliskan kalimat "Jokowi adalah sosok pemimpin rakyat. Meski ndeso, tapi sederhana dan tidak neko-neko". Pria 37 tahun warga Kecamatan Laweyan ini bahkan berharap Jokowi bisa diduetkan dengan mantan wakil presiden Jusuf Kalla.
"Saya kira dua tokoh itu adalah duet yang cocok. Sebab perpaduan antara Jawa dan luar Jawa. Tak masalah Jokowi meninggalkan jabatannya (Gubernur DKI) demi kepentingan orang yang lebih banyak," harap Suparjo.
Pesan Jokowi untuk Caleg di Pemilu 2014 : Kalau Kerja Nyata, Pasti Dipilih
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta yang juga kader PDIP, Joko Widodo (Jokowi) mengahdiri acara Halal Bihalal di DPC PDIP Jakarta Timur. Dalam acara yang juga dihadiri oleh para calon anggota legislatif dari PDIP ini Jokowi berpesan agar membuktikan diri dengan bekerja, bukan hanya berkata-kata.
"Hati-hati, masyarakat sekarang lihat orang, lihat figur. Bukan kerja kata-kata, tapi kerja nyata. Konkret. Kalau itu dilakukan, mau cari berapa kursi?" ujar Jokowi di depan beberapa caleg dan ratusan kader PDIP di DPC PDIP Jakarta Timur, Jl H Naman, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Minggu (1/9/2013).
Ucapan Jokowi kemudian disambut riuh dan tepuk tangan para kader.
"Betul Pak," ucap warga.
Jokowi menegaskan, masyarakat saat ini sudah pintar menilai. Mereka bahkan memperhatikan jejak rekam para caleg.
"Karena rakyat sekarang pintar, pintarnya setengah mati. Jadi dilihat masyarakat, kerjanya apa? Nyata atau tidak? Konkret atau tidak? Bisa dirasakan oleh masyarakat atau tidak?" Katanya.
"Kalau benar, riil, pasti dipilih," tambah Jokowi.
Gebrakan Jokowi : Hari Ini Jokowi akan Resmikan Pasar PKL Blok G Tanah Abang
Jakarta - Para Pedagang Kaki Lima (PKL) Tanah Abang, yang sempat berjualan di trotoar dan badan jalan kini telah direlokasi ke Blok G Tanah Abang. Hari ini, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) akan meresmikan pembukaan pasar PKL Blok G tersebut.
"Besok (Senin hari ini) kita buka pasar Blok G," ujar Jokowi usai menghadiri acara Hala Bihalal kadser PDIP DPC Jakarta Timur, Minggu (1/9/2013) malam.
Jokowi mengatakan, pasar PKL Blok G tersebut harus segera dipromosikan. Terlebih yang berjualan di lokasi tersebut merupakan PKL dari berbagai jenis barang dagangan.
"Ya kita buka supaya segera dipromosikan," kata mantan Wali Kota Solo ini.
Pembukaan Blok G Pasar Tanah Abang sedianya dilaksanaka hari ini, Minggu (1/9). Namun karena banyak pedagang yang baru mendapatkan kunci kios, maka diundur menjadi Senin (2/9).
"Kalau tidak ada halangan akan dilakukan pembukaan hari Senin sekaligus kita bikin halal bi halal bareng Pak Jokowi," ujar Kepala PD Pasar Jaya, Made Sabtu (31/8).
Made mengatakan, saat ini sudah 90 persen pedagang yang mengambil kunci kios. PD Pasar Jaya menerapkan aturan jika dalam 10 hari terdapat kios yang tidak buka, maka kios tersebut akan dialihkan ke pedagang lain. Pedagang pun tidak dipungut biaya sewa selama 6 bulan pertama.
"Bulan pertama memang seratus persen gratis, nah di bulan kedua sampai keenam nanti ada biaya listrik, kebersihan, dan keamanan. Besarannya antara Rp 4.500 - Rp 5.000 lah per kiosnya per bulan," terangnya.
Subscribe to:
Comments (Atom)
