PT. Kereta Api Indonesia mengaku kehilangan ribuan tiket pasca menerapkan e-ticketing di semua stasiun di Jabodetabek. PT KAI pun menyalahkan penumpang yang banyak membawa lari e-ticketing yang seharusnya dimasukkan ke dalam mesin tiket.
Menanggapi hal tersebut, Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) justru menyalahkan PT. KAI atas hilangnya e-ticket tersebut. PT KAI dinilai tidak siap memberlakukan e-ticketing tersebut.
"Untuk membayar perlu 4-10 detik keluar kartunya lama. Untuk keluar dari stasiun perlu 15 detik kalau kita buru-buru gimana. Akhirnya banyak yang enggak ngasih tiketnya juga. Konsep e-ticketing harus benar dulu," kata Sekretaris DTKJ, Aully Grashinta di kantornya, Jakarta, Senin (8/3).
Bukan hanya itu, kartu multi trip yang diluncurkan PT. KAI juga dianggap tidak efisien dan mahal. "PT KAI tidak kreatif kenapa harus plastik kartunya bukan kertas. Ini kan kalau hilang gak semahal plastik. Jangan mencari untung dari multi trip, karena multi trip itu harusnya lebih murah dari ada single trip," imbuh Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta, Azas Tigor Nainggolan.
Dia pun membandingkan sistem e-ticketing yang ada di luar negeri dengan di sini. Di luar negeri, lebih murah dan efisien.
"Di Washington pakai kertas. Kalau di luar negeri e-ticket multi trip masih murah. 350 dolar kita bebas berkali-kali naik turun satu hari. Kalau multi trip KAI harganya sama dengan single trip. Kenapa bikin tiket yang begitu," ujarnya.
No comments:
Post a Comment